(ANTARA News/Reuters) - Uni Afrika (AU) memperpanjang setahun lagi mandat pasukan penjaga perdamaiannya di Somalia, mengabaikan tuntutan gerilyawan agar mereka ditarik, kata Dewan Keamanan dan Perdamaian AU, Kamis.

Pasukan berkekuatan 8.000 orang yang dikenal sebagai AMISOM itu, yang dibentuk pada 2007 dengan mandat awal enam bulan, membantu pasukan pemerintah Somalia mengatasi kekerasan muslim militan yang telah menewaskan lebih dari 21.000 orang sejak awal 2007.

Badan-badan intelijen Barat mengatakan, Somalia telah menjadi tempat aman bagi militan dan pejuang jihad asing yang menyerang negara-negara ekonomi besar Afrika timur.

"AU memutuskan memperbarui mandat AMISOM selama 12 bulan lagi, mulai 17 Januari 2011," kata AU dalam sebuah pernyataan tertulis singkat.

Gerilyawan garis keras Al-Shabaab melancarkan serangan mematikan di Kampala pada Juli dan menyatakan, pemboman di ibukota Uganda itu dilakukan sebagai pembalasan atas kematian orang-orang Somalia di tangan pasukan Uganda di Somalia.

Dewan Keamanan PBB pada Desember mensahkan penempatan 4.000 prajurit tambahan untuk membantu mendukung pemerintah sementara Somalia. Uganda diperkirakan menyediakan pasukan tambahan itu.

Al-Shabaab telah mengancam akan menyerang Uganda dan Burundi karena mereka menempatkan pasukan di Mogadishu sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika AMISOM.

Pasukan AU itu, yang tugas utamanya melindungi pemerintah lemah Somalia yang didukung Barat sejak ditempatkan pertama kali pada awal 2007, telah gagal menstabilkan Mogadishu dan menghadapi kekerasan sengit yang dikobarkan gerilyawan muslim garis keras.

AU meminta batas pasukan yang diwenangkan ditingkatkan menjadi sedikitnya 12.000 dari sekitar 8.000 dan menginginkan mandat lebih kuat, dan langkah itu telah memperoleh persetujuan dari Dewan Keamanan PBB.

Al-Shabaab kini menguasai sejumlah besar wilayah di Somalia tengah dan selatan, yang terperangkap ke dalam perang saudara selama dua dasawarsa terakhir.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli lalu.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaeda.

Serangan-serangan bom pada 11 Juli itu dilakukan di sebuah restoran dan sebuah tempat minum yang ramai di Kampala ketika orang sedang menyaksikan siaran final Piala Dunia di Afrika Selatan.

Pemimpin Al-Shabaab telah memperingatkan dalam pesan terekam pada Juli bahwa Uganda akan menghadapi pembalasan karena peranannya dalam membantu pemerintah sementara Somalia yang didukung Barat.

Uganda adalah negara pertama yang menempatkan pasukan di Somalia pada awal 2007 untuk misi Uni Afrika yang bertujuan melindungi pemerintah sementara dari Al-Shabaab dan sekutu mereka yang berhaluan keras di negara Tanduk Afrika tersebut.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Penculikan, kekerasan mematikan dan perompakan melanda negara tersebut.