Kairo (ANTARA News) - Pemerintah Mesir telah membebaskan seorang diplomat Iran yang ditahan karena dicurigai menjadi mata-mata di negara Afrika utara itu untuk dinas intelijen Teheran, media resmi Mesir melaporkan, Ahad.

Kantor berita resmi Mesir MENA melaporkan pihak penuntut keamanan negara membebaskan pria itu setelah mereka "diberitahu oleh kementerian luar negeri (Mesir) bahwa ia adalah seorang diplomat di misi Iran" di Kairo.

Seorang pejabat keamanan telah memastikan pembebasan orang itu, tapi tidak ada penjelasan segera mengapa ia ditangkap di tempat pertama meskipun dengan jelas dikenali sebagai seorang diplomat ketika ditahan.

MENA sebelumnya melaporkan bahwa "pihak penuntut negara hari ini telah memulai pemeriksaan terhadap diplomat Iran Qasim al-Hosseini, yang bekerja di seksi kepentingan Iran di Kairo".

Hosseini, yang ditangkap beberapa hari lalu, telah dituduh "menjadi mata-mata untuk negara asing (Iran) dalam upaya untuk mengganggu kepentingan Mesir", kata MENA.

Penyelidikan awal membuktikan diplomat itu telah mengumpulkan "informasi mengenai Mesir, tentang perkembangan terakhir yang negara itu alami dan kondisi yang negara itu telah lewati, kemudian mengirim informasi tersebut ke dinas inteljen Iran", kantor berita itu menambahkan.

Seksi kepentingan Iran di Kairo membantah laporan itu.

"Ia ada di kedutaan ketika saya berbicara. Tidak terjadi hal itu, ia tidak ditangkap," seorang pejabat di seksi tersebut mengatakan pada AFP tanpa menyebut nama.

Sebelumnya di Teheran, satu sumber sebegaimana dikutip oleh saluran televisi berbahasa Arab Al Alam mengatakan bahwa Hosseini "sekarang ini di kantornya dan bekerja biasa" di Kairo.

"Kami mengikuti kasus itu," ia menambahkan tanpa memerinci.

Iran dan Mesir tidak memiliki hubungan diplomatik dan hubungan antara kedua negara itu tegang di bawah presiden Mesir Hosni Mubarak.

Teheran memutuskan hubungan diplomatik dengan Mesir pada 1980 sebagai protes atas perjanjian damai Kairo dengan Israel yang ditandatangani setahun sebelumnya, dan kedua negara hanya mempertahankan seksi kepentingan di ibu kota negara lainnya masing-masing.

Namun kedua negara Muslim itu telah memberikan isyarat mereka merencanalan untuk memperbaiki hubungan segera setelah jatuhnya rezim Mubarak 11 Februari tahun ini.

Rezim Mubarak telah menuduh Iran berupaya untuk memperoleh pijakan kaki di negara Sunni itu melalui rencana oleh kelompok Syiah garis keras Libanon, Hizbullah, untuk menyerang tempat-tempat wisata dan pelayaran di Terusan Suez.

Para terdakwa dalam kasus itu, beberapamenerima hukuman penjara seumur hidup, mengatakan mereka hanya mengirim senjata ke gerilyawan Palestina di Jalur Gaza yang dekat dengan Mesir, dan Iran membantah penyataan Kairo tersebut.