FOKUS INTERNATIONAL KEMBALI HADIR UNTUK PARA PEMBACA SEKALIAN

jual beli liberty reserve, jual beli paypal
Tampilkan postingan dengan label Fokus Afrika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokus Afrika. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

Mogadishu (Fokus/ANTARA News) - Sedikitnya enam warga sipil Somalia tewas setelah mortir menghantam kamp pengungsi di dekat istana presiden di Mogadishu, ibu kota Somalia, kata sejumlah saksi, Senin.

"Seorang ayah, ibu dan dua anak mereka tewas, setelah sebuah mortir menghantam tempat mereka, dan satu mortir lagi menewaskan dua warga sipil lain," kata Abdiwahid Mohamed, seorang saksi, lapor AFP.

"Orang sedang tidur ketika bom-bom mortir mulai berjatuhan," kata Kolonel Bare Mohamed, seorang pejabat keamanan pemerintah.

"Serangan itu menewaskan sejumlah warga sipil di sebuah kamp dekat istana presiden," katanya, dengan menambahkan bahwa penyelidikan masih dilakukan mengenai siapa yang menembakkannya.

Sejumlah orang cedera dalam serangan Minggu tengah malam, dan menurut para saksi, beberapa bom ditembakkan dalam serangan itu.

"Sedikitnya enam mortir menghantam lokasi sekitar kamp itu, dan tiga diantaranya menghantam bagian dalam yang menewaskan tiga orang -- selain korban tewas, tujuh orang juga cedera," kata Muktar Ali, seorang saksi.

Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, yang diyakini ditujukan pada istana presiden.

Pada 14 Maret, serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya lima orang di dalam kompleks istana presiden di Mogadishu.

Gerilyawan Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu namun menyebut jumlah korban tewas 17 dan 30 orang cedera.

Meski Al-Shabaab menarik diri dari Mogadishu pada Agustus 2011 dan pasukan Uni Afrika mengamankan daerah yang ditinggalkan kelompok gerilya itu, kota pesisir tersebut masih tetap rawan serangan-serangan bom.

Sejak mundur dari Mogadishu pada Agustus 2011, Al-Shabaab mendapat tekanan yang meningkat di Somalia tengah dan selatan dari pasukan Ethiopia dan Kenya yang berperang bersama pasukan pemerintah Somalia dan milisi pro-pemerintah.

Pasukan AMISOM yang berkekuatan 10.000 orang berperang untuk mengamankan Mogadishu, enam bulan setelah Al-Shabaab meninggalkan pangkalan mereka di sana dan melakukan perang gerilya, termasuk serangan-serangan bom bunuh diri dan bom mobil.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei dua tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. 


Editor : Jendri Frans Mamahit

Jumat, 16 Maret 2012

Libya akan rebut perbatasan dari gerilyawan

Tripoli (Fokus/ANTARA) - Pemerintah Libya, Rabu, mengatakan sedang mempersiapkan diri untuk mengambil alih kendali arus lintas batas di perbatasan-perbatasan dan bandara, termasuk di Tripoli dari mantan gerilyawan yang berjuang untuk menggulingkan Moamar Gaddafi.

Juru bicara pemerintah Nasser al-Manaa mengatakan topik tersebut dibahas dalam sebuah pertemuan pada Selasa antara pemerintah, Dewan Transisi Nasional yang memerintah dan para pemimpin gerilyawan.

Setelah pertemuan, "para mantan pemberontak sepakat untuk menyerahkan bandara dan titik perbatasan" kepada pihak berwenang, kata Manaa dalam konferensi pers di ibukota Libya.

"Pemerintah hari ini akan memulai proses pengambilalihan kendali" fasilitas-fasilitas itu, termasuk bandara Tripoli dan pelabuhan Misrata, dalam "langkah penting untuk memperkuat kepercayaan di negara bagian," katanya.

Beberapa bandara, pelabuhan dan perbatasan tetap di bawah kendali pasukan pemberontak yang berperang mantan loyalis dari Moamer Gaddafi selama delapan bulan hingga tergulingnya tokoh kuat tersebut yang berujung pada kematian di Oktober 2011.

Pada 21 Februari, Kementerian Dalam Negeri memberi tenggat waktu selama dua pekan bagi mereka agar menyerahkan kendali ke pemerintah dari semua pelabuhan laut, bandara dan pos perbatasan darat di Afrika Utara itu.

Bandara Internasional Tripoli telah dikendalikan oleh satu brigade dari Kota Zintan, sementara perbatasan di padang pasir selatan dikendalikan oleh suku-suku dan mantan gerilyawan.

Setahun yang lalu, ribuan warga Libya meninggalkan tempat kerja mereka untuk mengangkat senjata dan berjuang untuk menggulingkan rezim Gaddafi.

Sebagian besar dari mereka tetap bertahan di brigade bersenjata terorganisir dan telah menjalankan hukum dan aturan sendiri di tengah-tengah absennya polisi dan militer yang berfungsi penuh, demikian AFP.


Editor : Jendri Frans Mamahit

Kamis, 19 Januari 2012

Sirleaf dilantik sebagai presiden Liberia

Monrovia (Fokus/ANTARA News) - Peraih hadiah Nobel Perdamaian dari Liberia Ellen Johnson Sirleaf, pada Senin dilantik dalam satu upacara mewah berbiaya 1,2 juta dolar AS dan menyerukan rekonsiliasi setelah ia terpilih kembali dalam pemilihan yang disengketakan.

Nenek berusia 73 tahun dilantik ketua Mahkamah Agung Johnnie Lewis dan dihadiri Menlu AS Hillary Clinton sementara ribuan orang menyaksikan dari lapangan gedung Capitol.

"Kita memperoleh tempat kita yang sah sebagai satu suara demokrasi, satu negara harapan dan yang menawarkan kesempatan," kata Sirleaf yang memangku masa jabatan keduanya sejak berakhirnya perang 14 tahun.

"Perpecahan yang menghasilkan puluhan tahun perang saudara masih mendalam karena itu memerlukan waktu lama bagi rekosiliasi."

Sirleaf mengatakan negara memerlukan satu proses nasional untuk menyembuhkan perpecahan nasional dengan tidak mengutamakan suku, daerah, agama atau etnik tetapi dengan persamaan kesempatan dan masa depan lebih baik bagi semua warga Liberia."

Ini berarti "menciptakan pekerjaan, kesempatan dan memberikan rakyat muda kita keterampilan yag mereka butuhkan untuk bisa hidup makmur dan menciptakan kehidupan yang mereka pilih."

Seorang pejabat senior AS memuji sejarah keterlibatan wanita yang sangat penting dalam mengakhiri satu konflik".

Setelah pemilihan yang kacau dan rusuh sebagian besar diikuti para pemuda yang menghadapi tingkat pengangguran yang tinggi, Sirleaf mengatakan pemeritah harus memberikan satu pendidikan yang bermanfaat agar orang-orang muda "dapat memperoleh pekerjaan dan menerima upah harian yang layak".

Sebelum acara itu Sirleaf berembuk dengan Hillary, yang mengunjungi negara itu dalam rangka lawatan empat negara Afrika, dan membicarakan dampak korupsi.

"Korupsi adalah salah satu dari hambata-hambatan bagi tercapainya kesejahteraan yang lebih besar d Liberia ini," kata Hillary setelah membuka kedubes baru AS di Monrovia seusai pelantikan Sirleaf.

"Tentu itu adalah sesuatu yang kita tangani di seluruh dunia, jadi kita memerlukan gagasan-gagasan yang baik.

"Kami ingin Liberia membantu usaha membrantas kanker korupsi, yang hanya menghancurkan energi rakyat dan merusak prakarsa mereka.

"Kami akan melakukan apapun yang kami dapat untuk meyakinkan mereka dapat mencapai tujuan demokrasi, kesejahteraan, perdamaian dan keamanan."

Hillary memuji kemajuan negara Afrika barat itu delapan tahun setelahcberakhirnya konflik 14 tahun yang menewaskan 250.000 orang.

"Demokrasi tidak hanya tumbuh di Liberia tetapi juga mengakar," katanya.

Kendatipun pemerintah mengatakan 30 kepala negara akan menghadiri upacara itu tetapi hanya sedikit yang datang-- di antara mereka adalah Alpha Conde dari Guinea, Abdoulaye Wade dari Senegal dan Ernest Koroma dari Sierra Leon.

Pesaing kuat Sirleaf, kandidat utama oposisi Winston Tubman juga hadir,setelah menerima hasil pemilihan itu yang dimenangkan Sirleaf sehari menjelang pelantikan setelah perundingan selama beberapa minggu karena dia memprotes kemenangannya, demikian AFP melaporkan.

Sabtu, 14 Januari 2012

Pemerintah Sudan halangi misi PBB di Darfur

PBB (Fokus/ANTARA News/AFP) - Pemerintah Sudan menghalangi pergerakan pasukan penjaga perdamaian di Darfur dimana bentrokan meletus dan perundingan perdamaian mengalami kebuntuan, kata PBB, Rabu.

Pihak berwenang Khartoum juga menahan ratusan permohonan visa bagi personel militer, polisi dan sipil untuk misi PBB di Darfur (UNAMID), kata kepala misi penjaga perdamaian Herve Ladsous pada pertemuan Dewan Keamanan PBB mengenai wilayah Sudan yang dilanda konflik sejak 2003 itu.

Bentrokan-bentrokan antara pasukan pemerintah dan sejumlah kelompok gerilya meningkat di beberapa daerah Darfur sejak Desember.

"Peningkatan berarti dalam manuver dan bentrokan antara pasukan pemerintah dan gerilyawan dalam beberapa pekan ini disertai dengan peningkatan tajam dalam pembatasan pergerakan yang diberlakukan pada UNAMID oleh pihak berwenang pemerintah," kata Ladsous kepada para duta besar PBB.

Kebijakan Sudan itu mencakup pembatasan terhadap penerbangan dan patroli di daerah-daerah dimana bentrokan dikabarkan terjadi, kata kepala misi perdamaian PBB itu.

"Penolakan akses telah sangat mengganggu kemampuan UNAMID untuk melaksanakan mandatnya dan mengirim pasukan ke lokasi tim di daerah yang perpengaruh," kata Ladsous, dengan menambahkan bahwa tuntutan berulang kali diajukan ke pemerintah Khartoum agar menepati janjinya memberkan akses tanpa halangan di Darfur.

Ladsous juga mengatakan kepada DK PBB, hingga Selasa 935 permohonan visa bagi pasukan dan staf UNAMID tertahan dan hal itu menimbulkan kekawatiran.

Pada Desember, pasukan pemerintah membunuh Khalil Ibrahim, pemimpin Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM), kelompok gerilya dengan persenjataan paling kuat.

Ladsous mengatakan, hal itu telah mengacaukan peluang perundingan antara JEM serta aliansinya dan pemerintah Sudan.

JEM adalah satu dari dua kelompok Darfur yang memberontak pada 2003 untuk menuntut otonomi lebih luas bagi wilayah barat yang gersang itu. Mereka kini dianggap sebagai kelompok pemberontak yang paling kuat.

JEM menolak menandatangani perjanjian perdamaian penengahan Qatar yang ditandatangani Sudan dan Gerakan Keadilan dan Kebebasan (LJR), sebuah kelompok pemberontak lain di Darfur.

Perpecahan di kalangan pemberontak dan pertempuran yang terus berlangsung menjadi dua halangan utama bagi perundingan perdamaian yang berlangsung sejak 2003 di Chad, Nigeria dan Libya, sebelum pindah ke Doha.

Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon telah mengungkapkan kekhawatiran atas peningkatan pertempuran antara gerilyawan dan pasukan pemerintah di wilayah Sudan barat itu.

Ban mengatakan, ia terutama khawatir mengenai pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok gerilya Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) serta Tentara Pembebasan Sudan (SLA) yang setia pada Minni Minnawi.

JEM dan SLA mengangkat senjata melawan pemerintah Sudan di Darfur pada 2003 dengan menuduh mereka mengabaikan wilayah barat Sudan yang terpencil itu.

Serangkaian gencatan senjata dan perjanjian telah gagal menghentikan pertempuran di kawasan itu. JEM bergabung dalam perundingan perdamaian Darfur pada Desember lalu, tujuh bulan setelah mereka menghentikan negosiasi.

PBB mengatakan, lebih dari 300.000 orang tewas sejak konflik meletus di wilayah Darfur pada 2003, ketika pemberontak etnik minoritas mengangkat senjata melawan pemerintah yang didominasi orang Arab untuk menuntut pembagian lebih besar atas sumber-sumber daya dan kekuasaan. Pemerintah Khartoum menyebut jumlah kematian hanya 10.000.
Mogadishu (Fokus/ANTARA News/Reuters) - Gerilyawan membunuh ketua yayasan distribusi pangan di Somalia tengah, kata milisi pro-pemerintah, Jumat, dalam serangan terakhir terhadap upaya bantuan di negara yang dilanda kelaparan itu.

"Pemberontak membunuh Abdikarim Hashi Kediye, ketua yayasan Towfiq ... dan supirnya kemarin sore antara Dusamareb dan Guriel," kata Sheikh Abdullahi Sheikh Abu Yusuf, juru bicara kelompok milisi Ahlu Sunna, kepada Reuters, Jumat.

Ia menambahkan, gerilyawan menggunakan granat roket dalam serangan itu.

Kooordinator Towfiq, Abdullahi Mohamud Yaardi, berjanji akan melanjutkan pekerjaan kemanusiaan yayasan itu di daerah Galgadud, Somalia, namun serangan tersebut menggarisbawahi kondisi berbahaya yang dihadapi pekerja bantuan di negara yang dilanda anarkisme itu.

Kamis, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menghentikan distribusi pangan bagi lebih dari 1,1 juta orang di Somalia selatan dan tengah setelah Al-Shabaab menahan konvoi yang membawa bantuan pangan darurat.

ICRC mengatakan, Jumat, pihaknya mengharapkan penjelasan dari pihak berwenang setempat yang terkait dengan Al-Shabaab mengenai mengapa pengiriman makanan bagi penduduk Somalia yang kelaparan tertahan selama empat minggu di Jowhar dekat Mogadishu untuk pengawasan kualitas.

"Semakin lama kami menunggu, tentu semakin tidak baik makanan itu," kata Benjamin Wahren, deputi kepala operasi ICRC untuk Afrika Timur yang menangani Somalia, pada jumpa pers di Jenewa.

Somalia kini dilanda kelaparan parah akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB telah mengumumkan

Mogadishu dan empat wilayah Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.

Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan gerilyawan Al-Shabaab.

Bentrokan-bentrokan itu berlangsung ketika badan-badan bantuan internasional berusaha mencari cara untuk menyerahkan bantuan makanan kepada penduduk yang tinggal di kawasan yang dilanda kelaparan, khususnya daerah-daerah Somalia selatan yang dikuasai kelompok Al-Shabaab yang terkait dengan Al-Qaida.

Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah ancaman terhadap staf mereka dan aturan semakin keras yang diberlakukan terhadap aktivitas mereka oleh Al-Shabaab, yang dimasukkan ke dalam daftar kelompok teror oleh Washington.

Militan pada Juli mengatakan, kelompok bantuan asing bisa kembali lagi ke wilayah itu, namun seorang juru bicara Al-Shabaab mengatakan kemudian bahwa larangan operasi terhadap mereka masih tetap diberlakukan.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama empat tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut.
Isiolo, Kenya (Fokus/ANTARA News) - Gerilyawan Al-Shabaab Somalia menyerbu sebuah kamp polisi terpencil di Kenya timurlaut, menewaskan tujuh orang dan menculik sejumlah pejabat pemerintah daerah, kata kelompok itu dan pejabat Kenya, Kamis.

Puluhan gerilyawan melemparkan granat dan peledak lain ketika mereka menyerbu kamp polisi itu pada Rabu larut malam di Gerille, sebuah kota dekat perbatasan rapuh dengan Somalia, kata Komisaris Daerah Wenslas Ongayo, lapor Reuters.

Rabu, 11 Januari 2012

Jakarta (Fokus/ANTARA News) - Enam bulan lalu rakyat  Sudan Selatan  dipenuhi kebahagiaan saat mereka memproklamasikan kemerdekaan. Kini, Sudan Selatan dilanda konflik, pembunuhan dan ketegangan antarsuku.

Dua dasawarsa perang dengan mantan musuhnya dari negara Sudan Utara membuat wilayah Sudan Selatan terbelakang di tengah reruntuhan. Pasukan milisi  bertikai dan perpecahan sengit di antara suku yang berjumlah banyak.

Pada Jumat (6/1), seorang pejabat senior dari wilayah Jonglei menyatakan ribuan orang tewas dalam gelombang kerusuhan antarsuku pekan sebelumnya.

Joshua Konyi, komisaris bagi Kabupaten Pibor di negara bagian Jonglei, mengatakan 3.141 orang telah tewas. PBB dan para pejabat militer Sudan Selatan belum mengkonfirmasi jumlah korban jiwa, yang akan jadi wabah kerusuhan etnik terburuk yang pernah terlihat di negara yang baru muncul.

Selain konflik dalam negeri, Sudan Selatan menghadapi ketegangan di wilayah penghasil minyak di sepanjang perbatasan yang ditetapkan secara buruk dengan Sudan Utara; masing-masing pihak menuduh pihak lain mendukung kelompok perlawanan sementara banyak pengulas memperingatkan adanya resiko perang habis-habisan.

Pada penghujung Desember, Juba (Sudan Selatan) menuduh Khartoum (Sudan Utara) membunuh 17 warga sipil dalam dua hari pemboman terhadap perbatasan Bahr al-Ghazal Barat, Sudan Selatan. Sudan Utara telah membantah tuduhan tersebut.

Masalah yang paling mendesak bagi negara yang baru "seumur jagung" itu --yang memiliki luas seperti gabungan negara Spanyol dan Portugal tapi segelintir jalan yang diaspal di luar ibukotanya, "tak diragukan adalah keamanan", kata Giorgio Musso, profesor di University of Genoa, di dalam tulisan pada Oktober.

Sejak kemerdekaan Sudan Selatan, bekas tentara pemberontak Sudan telah mengalahkan beberapa pemimpin pemberontak --dan menewaskan sebagian pemimpin. Sementara itu, pemimpin lain merundingkan penyerahan diri dan anak buah mereka bergabung dengan militer, yang sudah memiliki 100.000 personel dan terpecah sejalan dengan kelompok suku.

"Kebanyakan ketidakstabilan dalam negeri yang terjadi baru-baru ini ... tentu memiliki hubungan dengan SPLM/A (tentara dan partai yang berkuasa) sendiri, yang melibatkan kaum elit yang mesti menyelesaikan masalah di antara mereka," Musson menambahkan sebagaimana dikutip AFP.

Beberapa kekuatan pemberontak yang tersisa telah menawarkan apa yang namanya saja agenda politik, banyak di antara mereka menuduh pemerintah melakukan korupsi, mencurangi pemilihan umum dan mempertahankan dominasi kelompok suku Presiden Salva Kiir, Dinka, atas suku lain.

Sudan Selatan, yang memisahkan diri dari Sudan Utara pada 9 Juli, telah berulangkali menuduh Khartoum melanjutkan taktik perang saudara untuk merusak kestabilannya dengan mengirim senjata buat kelompok milisi. Sementara itu Sudan Utara membantahnya.

Permusuhan bersejarah antara kelompok yang bertikai bertambah parah oleh perang, sementara susunan masyarakat tradisional terguncang hebat oleh pemuda yang dibesarkan untuk mengandalkan senjata bagi kelangsungan hidup.

Andalkan senjata
Banyak kelompok pemuda bersenjata, dengan harapan dan ambisi yang menjulang tinggi lewat kemerdekaan bersejarah Sudan Selatan, memandang tindakan mengangkat senjata sebagai penyelesaian bagi kemiskinan yang menggilas mereka. Mereka mencuri ternak dalam serangan cuma sebagai aksi balas dendam.

"Sudan Selatan memiliki warga yang terserang trauma yang terbiasa menggunakan kekerasan sebagai cara menyelesaikan sengketa mereka, dan akan menjadi proses yang berjalan lama dan lamban untuk mengubah mental ini," kata seorang ahli yang lama mempelajari Sudan, John Ashworth.

Salah satu wilayah yang mengalami pukulan paling keras adalah negara bagian Jonglei yang bergolak di bagian timur negara itu. Pekan sebelumnya, kerusuhan membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan pejabat setempat mengeluarkan peringatan mengenai banyaknya korban jiwa dalam pembunuhan besar-besaran.

"Kerusuhan antarmasyarakat yang kita saksikan bukan sesuatu yang baru, tapi itu adalah babak yang sangat serius," kata Jehanne Henry dari Human Rights Watch.

Konyi --komisaris bagi Kabupaten Pibor-- mengatakan sebanyak 6.000 pemuda bersenjata yang mengamuk dari suku Lou Nuer pekan sebelumnya berpawai ke dalam wilayah Pibor, tempat tinggal suku saingannya, Murle. Para pemuda tersebut menuduh suku Murle melakukan penculikan, menyerang ternak serta berikrar akan melakukan pemusnahan.

Ketika pemuda bersenjata dari Lou Nuer melakukan penyerangan pada akhir pekan, mereka diduga membakar gubuk dan menjarah rumah sakit, dan baru mundur setelah tentara pemerintah melepaskan tembakan.

Lebih dari 1.000 anak hilang, dikhawatirkan diculik, sementara puluhan ribu sapi dicuri, kata Konyi --yang juga berasal dari suku Murle.

Kerusuhan etnik dan serangan terhadap ternak di Jonglei saja telah membuat 1.100 orang tewas dan memaksa sebanyak 63.000 meninggalkan rumah mereka tahun lalu, demikian perkiraan PBB.

Ternak sangat penting buat banyak kelompok suku Sudan Selatan, sebab hewan tersebut menyediakan sumber kesehatan dan kebanggaan bagi masyarakat, dan pemerintah telah berjuang untuk menembus lingkaran kerusuhan serta serangan dan serangan balasan.

Membangun negara baru memerlukan waktu, tapi meskipun Sudan Selatan telah membuat kemajuan besar sejak perang berakhir tujuh tahun lalu,, pada 9 Januari 2005, banyak orang masih merasa pembangunan berjalan terlalu lamban.

Korupsi yang merajalela dan pegawai negeri yang berpendidikan buruk menambah kesulitan yang dihadapi oleh negara yang berjuang menanggung hidup ratusan ribu orang yang kembali ke Sudan Selatan dari Utara, tempat mereka menyelamatkan diri selama perang.

Terlebih lagi, perundingan alot dengan Khartoum mengenai pembayaran pipa saluran untuk mengangkut cadangan minyak Sudan Selatan di satu-satunya jalur yang tersedia menuju utara macet. Sebanyak 98 persen anggaran Sudan Selatan bergantung atas pengiriman tersebut.

Namun Sudan Selatan --yang memiliki potensi besar pertanian serta sumber daya mineral yang dipercaya berlimpah-- memang menawarkan "masa depan yang cerah", kata Ashworth. Ditambahkannya, ia "dengan tegas menolak" penggambaran Sudan Selatan sebagai negara yang gagal.

"Sudan Selatan adalah negara baru yang masih muda, berkembang secara lamban, kurang pengalaman dan prasarana, tapi negara itu sudah membuat prestasi besar dan masih bergerak maju," kata Ashworth.

"Kerusuhan di Jonglei dan tempat lain memang tragis, tapi itu harus ditetapkan sebagai kenyataan bahwa kebanyakan orang di negara baru yang luas tersebut akan lebih banyak menjalani hidup mereka dengan relatif damai."

Minggu, 08 Januari 2012

Nairobi (Fokus/ANTARA News) - Pejabat penting PBB di Sudan Selatan, Sabtu mengatakan "tidak ada bukti" ditemukan mengenai laporan pembunuhan massal, tetapi memperingatkan bahwa 60.000 orang sangat memerlukan bantuan.

Hilde Johnson, Wakil Khusus PBB untuk Sudan Selatan, mengatakan laporan-laporan bahwa lebih dari 3.000 orang tewas pekan lalu ketika ribuan pemuda bersenjata menyerang daerah Pibor, negara bagian Jonglei tampaknya merupakan satu tanda bahaya yang palsu.

"Yang penting, kami tidak menemukan bukti yang mendukung tentang jumlah itu," katanya setelah mengunjungi daerah-daerah di mana 8.000 pemuda bersenjata mengamuk membakar rumah-rumah dan memaksa ribuan orang lari.

Dalam saling serang yang meningkat, satu milisi dari suku Lou Nuer pekan lalu bergerak ke Pibor, tempat tinggal suku Murle musuhnya,yang mereka tuduh melakukan penculikan dam merampas ternak.

Masih belum jelas sampai Sabtu berapa jumlah orang yang tewas tetapi sepertiga dari semua pondok mereka dibakar di daerah-daerah yang jadi sasaran, sekitar 60.000 orang terlantar dan sangat memerlukan bantuan,tambah Johnson.

"Warga mengungsi tanpa tempat penampungan, rumah-rumah mereka dibakar, dan ternak mereka dirampas," katanya.

Koordinator kemanusiaan PBB untuk Sudan Selatan, Lise Grande, pekan lalu mengatakan "puluhan, mungkin ratusan ribu" orang mungkin meninggal dalam aksi kekerasan terbaru di negara paling baru dunia itu, yang mendeklarasikan kemerdekaan enam buan lalu itu.

Johnson menegaskan bahwa pasukan perdamaian PBB melindungi para warga sipil dua permukiman terbesar negara itu, kota Pibor dan Lekongele.

Mandat kami adalah melindungi para warga sipil,dan kami telah lakukan," tambahnya.

Sudan Selatan mengumumkan Jonglei satu "daerah bencana" nasional sementara PBB mengatakan pihaknya akan melakukan operasi darurat "besar-besaran" untuk membantu mereka terlantar akibat aksi kkerasan itu.

"Operasi darurat ini merupakan yang paling sulit dan mahal di Sudan Selatan," sejak perang saudara Sudan berakhir tahun 2005,kata PBB sebelumnya.

Selasa, 25 Oktober 2011

Gaddafi akan dimakamkan di gurun pasir

Jenazah Gaddafi
Misrata, Libya (Fokus Internasional / ANTARA News) - Jenazah pemimpin terguling Libya Muamar Gaddafi akan dimakamkan di kuburan rahasia di gurun, kata seorang pejabat Dewan Peralihan Nasional (NTC) seperti dikutip Reuters.

Pengumuman itu mengakhiri percekcokan mengenai mayatnya yang mulai membusuk dan membuat banyak orang mengkhawatirkan kemampuan pemerintah baru di Libya.

Saat sekutu Barat mereka merasa tak tenang bahwa Gaddafi dipukuli dan ditembak setelah ditangkap Kamis (20/10), gerilyawan memperlihatkan mayat mantan pemimpin Libya itu di kamar pendingin.

Mereka bersilang pendapat mengenai apa yang akan dilakukan dengan mayat tersebut, sampai-sampai jenazah tersebut membusuk dan memaksa mereka menutup pintu Senin kemarin.

"Ia akan dikuburkan besok dalam pemakaman sederhana yang dihadiri para sheikh. Itu akan dilakukan di lokasi yang tak diketahui di daerah gurun," kata pejabat tersebut.

Dia menambahkan, jenazah yang membusuk itu tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Pembunuhan tokoh berusia 69 tahun di kota kelahirannya, Sirte, itu mengakhiri delapan bulan perang saudara di negara Afrika Utara tersebut.


Editor : Jenry F.M
Sumber : Antara.News.Com


http://www.antaranews.com/berita/281446/gaddafi-akan-dimakamkan-di-gurun-pasir
Presiden Somalia
Mogadishu (Fokus Internasional / ANTARA News) - Presiden Somalia Sharif Sheikh Ahmed hari Senin menyatakan menentang serangan militer Kenya ke posisi-posisi gerilyawan di wilayah selatan negaranya, dan menekankan bahwa ia hanya menginginkan dukungan logistik dan pelatihan.

"Pemerintah Somalia dan rakyatnya tidak akan mengizinkan pasukan memasuki wilayahnya tanpa perjanjian terlebih dulu," kata Sharif kepada wartawan di Mogadishu.

"Hanya ada satu hal yang kami tahu tentang pasukan Kenya, dan itu adalah tawaran mereka mengenai pelatihan kepada tentara nasional Somalia," katanya.

Kenya meluncurkan penyerbuan militer delapan hari lalu dengan mengirim pasukan dan tank hingga sekitar 100 kilometer ke Somalia selatan, ke daerah-daerah yang dikuasai gerilyawan Al-Shabaab.

Pernyataan Sharif itu tampaknya bertolak belakang dengan sebuah perjanjian yang ditandatangani pekan lalu oleh para menteri pertahanan Kenya dan Somalia untuk "bekerja sama dalam melakukan pengamanan dan operasi militer".

Perjanjian yang ditandatangani di Mogadishu itu membatasi operasi Kenya di wilayah Juba Hilir Somalia.

"Kami telah meminta negara-negara tetangga melatih pasukan kami dengan tujuan mengambil bagian dalam pembebasan dan upaya perdamaian yang berlangsung di negara ini," kata Sharif.

"Namun, ada masalah-masalah kecil yang kami bahas dengan Kenya yang kami anggap tidak adil," tambahnya, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Pasukan Kenya pada Minggu (16/10) meluncurkan penyerbuan ke Somalia untuk memburu Al-Shabaab dan mengklaim telah membunuh puluhan gerilyawan dari kelompok tersebut.

Senin (17/10), Al-Shabaab membantah tuduhan Kenya bahwa mereka mendalangi sejumlah penculikan warga asing di negara tersebut akhir-akhir ini.

"Harakat Al-Shabaab Al-Mujahidin dengan ini membantah tegas semua tuduhan mengenai penculikan wisatawan dan pekerja bantuan dari dalam wilayah Kenya," kata kelompok gerilya muslim garis keras itu dalam sebuah pernyataan.

"Tuduhan yang dilontarkan pemerintah Kenya mengenai penculikan akhir-akhir ini tidak berdasar dan... tidak didukung bukti-bukti yang membenarkan. Itu tidak dilakukan oleh Harakat Al-Shabaab Al-Mujahidin" kata kelompok itu.

Al-Shabaab menuduh pemerintah Kenya menggunakan isu penculikan sebagai dalih untuk melakukan penyerbuan ke Somalia.

Dalam waktu kurang dari sebulan, seorang wanita Inggris dan seorang wanita Prancis diculik dari kawasan wisata pantai Kenya dalam dua insiden terpisah, yang merupakan pukulan besar bagi industri pariwisata di Kenya.

Kamis (13/10), dua wanita pekerja bantuan asal Spanyol diculik dari kamp pengungsi Dadaab, Kenya, kamp terbesar di dunia yang menjadi tempat bagi sekitar 450.000 pengungsi yang sebagian besar orang Somalia yang menyelamatkan diri dari

kekeringan, kelaparan dan perang.

Penculikan-penculikan itu juga diyakini dilakukan oleh Al-Shabaab Somalia. Belum ada tuntutan yang diumumkan oleh penculik bagi pembasan para sandera itu.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama empat tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut, demikian AFP.


Editor : Jenry F.M
Sumber : Antara News.Com


http://www.antaranews.com/berita/281427/presiden-somalia-tentang-intervensi-militer-kenya

Libya memulai tugas bentuk pemerintahan

Abdel Hafiz Ghoga
Benghazi, Libya (Fokus Internasional / ANTARA News) - Para pemimpin baru Libya pada Senin memulai tugas berat untuk membentuk satu pemerintahan sementara yang menyatukan kekuatan-kekuatan politik di negara itu setelah 42 tahun kekuasaan tangan besi Muamar Gaddafi.

Mereka menjanjikan satu sistem hukum Islam.

"Hari ini, kami mulai menyiapkan fase baru... Fase setelah pembebasan, fase yang akan kami rencanakan dan bekerja keras untuk masa depan Libya," kata Wakil Ketua Dewan Transisi Nasional, Abdel Hafiz Ghoga.

"Mari kita mulai bekerja untuk membuat konstitusi," katanya Minggu malam ketika ia menyatakan "pembebasan" Libya dari kekuasaan Gaddafi dalam acara meriah yang dihadiri puluhan ribu warga di Benghazi, kota di bagian timur.

Pemberotakan atas kekuasaan Gaddafi dilancarkan delapan bulan lalu dari kota itu.

Deklarasi yang sudah lama dinanti-nantikan itu muncul di tengah-tengah kontroversi di seputar kematian Gaddafi setelah ia dibawa hidup-hidup menyusul jatuhnya Sirte, kota kampung halamannya pada Kamis.

Inggris mengatakan insiden itu telah "menodai" NTC.

"Deklarasi pembebasan. Angkat kepala Anda tinggi. Anda warga Libya yang bebas," kata Choga kepada hadirin.

Berdasarkan peta jalan NTC, suatu pemerintahan sementara akan dibentuk dalam satu bulan dan pemilihan-pemilihan bagi suatu dewan untuk merancang hukum dasar yang baru diadakan dalam delapan bulan --pemungutan suara demokratis sejak Gaddafi naik ke tampuk kekuasaan lewat kudeta 42 tahun lalu.

Pemilihan parlemen dan presiden akan diadakan dalam satu tahun setelah itu -- atau 20 bulan dari deklarasi pada Minggu.

Pemimpin NTC Mustafa Abdel Jalil menyatakan bahwa hukum syariah akan berlaku di Libya yang dibebaskan.

"Sebagai negara Islam, kami menganut syariah sebagai hukum dasar," kata Abdel Jalil kepada kerumunan warga di Benghazi. "Hukum yang melanggar syariah batal dan tak berlaku secara hukum," katanya.

Usaha-usaha bersama bulan lalu untuk membentuk pemerintahan transisi gagal karena apa yang Abdel Jalil katakan "ada perbedaan pandangan" antara para anggota NTC dan dewan eksekutif sementara.

"Kita dihadapi dengan mentalitas bahwa setiap suku, setiap kawasan, setiap kota punya saham dalam pemerintahan baru," kata Abdel Jalil akhir September, ketika NTC memutuskan untuk menunda kegiatan pembentukan pemerintah sampai semua Libya dibebaskan.

Perdana Menteri Sementara Mahmud Jibril mengatakan pada Minggu bahwa formasi pemerintahan baru diharapkan terbentuk satu bulan.

"Ada konsultasi untuk membentuk pemerintahan baru dan proses ini akan memakan waktu kira-kira satu minggu sampai satu bulan. Bisa lama dan bisa kurang," katanya kepada wartawan pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Yiordania.

"Kemudian akan ada kerja keras untuk meminimalkan kurun waktu untuk mengadakan pemungutan suara memilih kongres nasional, yang akan jadi parlemen baru, menggantikan NTC yang dibubarkan," katanya kepada AFP.

Pada bagian lain Abdel Jalil sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera bahwa investigasi sedang dilakukan atas kematian Gaddafi setelah beberapa pemerintah asing dan kelompok pemantau hak azasi manusia mempertanyakannya.

"Kami sedang menangani soal itu dengan transparan," katanya.

Banyak pihak mempertanyakan bagaimana Gaddafi menemui ajalnya setelah para pejuang NTC mengeluarkan dia dari tempat persembunyian menyusul serangan udara NATO atas konvoi yang diduga dia berusaha melarikan diri dari kampung halamannya.

Video telefon seluler menunjukkan dia masih hidup pada saat itu.

Gambar menunjukkan Gaddafi yang berjalan berlumuran darah dibawa melintasi kerumunan orang sebelum dia tak nampak di antara mereka dan kemudian terdengar letusan senjata.

Para pemimpin NTC diam dia ditembak di bagian kepala ketika dia terjebak dalam "baku tembak" antara pendukungnya dan pejuang rezim baru setelah penangkapan.

Jibril mengatakan di Yordania bahwa laporan hasil otopsi menunjukkan Gaddafi tewas dalam "baku tembak kedua pihak."

Tapi Dr. Othman al Zentani, yang memeriksa jasad Gaddafi, kemudian mengatakan bahwa diktator itu telah "tewas ditembak" dan menambahkan,"Laporan otopsi saya belum selesai."

Zentani mengatakan dia tak dapat memberikan rincian lebih jauh karena dia harus "menunggu lampu hijau dari atasan saya," Jaksa Agung Abdelazizi al-Ahsadi.

Jibril menambahkan dia tak tahu "apakah peluru yang mengenainya di kepala berasal dari brigade keamanannya atau dari pejuang reviolusi."

Jasad Gaddafi telah disimpan di lemari es pasar sayur di Misrata, kota di bagian timur Libya. Warga berduyun-duyun ingin melihat dan mengambil gambar jasadnya.


Editor : Jenry F.M
Sumber : Antara News.Com


http://www.antaranews.com/berita/281392/libya-memulai-tugas-bentuk-pemerintahan

Senin, 24 Oktober 2011

Presiden Tunisia akan turun setelah pemilu

Presiden Tunisia Foued Mebaza
Tunis (Fokus Internasional) - Presiden sementara Tunisia Foued Mebazaa mengatakan akan mundur setelah pemilu bersejarah pertama Arab Spring, sembilan bulan setelah jatuhnya orang kuat Zine el Abidine Ben Ali.

"Saya akan mengakui hasil siapa pun yang menang dan apa pun warna mayoritas (dalam majelis masa depan)," kata Mebazaa dalam bahasa Arab Assabah, Minggu.

"Saya akan menyerahkan kekuasaan kepada siapa pun yang dipilih oleh majelis konstituante sebagai presiden baru republik ini," katanya.

Partai Ennahda Islam diperkirakan akan memenangkan kelompok terbesar surat suara pada pemilu Minggu di mana 7,2 juta pemilih yang berhak memberikan suaranya untuk menentukan 217 anggota majelis yang akan menyusun ulang konstitusi.

Majelis juga akan memiliki tugas memilih presiden sementara dan pemerintah sementara akan tetap di tempat selama penyusunan proses, yang diharapkan memerlukan tempo satu tahun.

"Pemilu Ahad mungkin kejutan musim semi politik pada saat mereka pertama menjadi pluralis, pemilu yang demokratis sejak revolusi "yang menggulingkan Ben Ali setelah memerintah 23 tahun," kata presiden sementara.

"Saya yakin mengenai moderasi rakyat Tunisia dan pemimpin mereka serta saya optimis tentang masa depan Tunisia dan juga kelancaran pemilu," tambahnya dikutip AFP.

Libya gelar pemilu delapan bulan mendatang

Laut Mati, Jordania (Fokus Internasional) - Rakyat Libya harus dibiarkan untuk memilih sebuah dewan nasional yang akan merancang konstitusi baru dan membentuk pemerintah sementara dalam delapan bulan mendatang, kata Perdana Menteri (PM) Dewan Transisi Nasional (NTC), Mahmoud Jibril, Sabtu.

Untuk saat ini, prioritas adalah menghapus senjata dari jalan-jalan negara dan mengembalikan stabilitas serta ketertiban, kata Jibril pada Forum Ekonomi Dunia di Yordania.

"Pemilu pertama harus dilakukan dalam jangka waktu delapan bulan, maksimum, untuk membentuk suatu kongres nasional Libya, semacam parlemen," katanya.

"Kongres nasional itu akan memiliki dua tugas - menyusun konstitusi, di mana kita akan mengadakan satu referendum, dan kedua untuk membentuk pemerintah sementara yang akan berakhir sampai pemilihan presiden pertama diadakan," kata Jibril.

Sementara itu, pengumuman resmi bahwa Libya telah bebas dari bekas rezim Muamar Gaddafi dijadwalkan akan dilakukan pada Ahad, kata seorang pejabat senior dalam pemerintah sementara.

"Pengumuman mengenai pembebasan itu akan diumumkan di Benghazi pada pukul 05.00 waktu setempat (pukul 22.00 WIB) pada Ahad, di pengadilan," katanya, tanpa menyebut nama.

Pengumuman itu direncanakan dilakukan oleh pemimpin sementara Libya Mustafa Abdel Jalil.

Acara itu di Benghazi, kota kedua Libya, tempat pertama pemberontak bangkit melawan rezim tangan besi itu pada Februari lalu, dan Dewan Peralihan Nasional (NTC), bekas pemberontak yang kini rezim baru Libya, masih bermarkas.

PM Libya Mahmud Jibril mengatakan, Kamis, setelah kematian Gaddafi dan jatuhnya kota kelahirannya Sirte, pengumuman yang dijanjikan bahwa negara itu pada akhirnya telah bebas direncanakan akan dilakukan Ahad, atau paling lambat Jumat.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Keluarga tuntut mayat Gaddafi dikembalikan

Jenazah Gaddafi
Misrata, Libya (Fokus Internasional) - Keluarga Muamar Gaddafi menuntut diberi kesempatan untuk memakamkan mayat mantan penguasa Libya itu.

Dalam satu pernyataan di stasiun televisi pro-Gaddafi yang berpusat di Suriah, keluarga mantan pemimpin Libya tersebut meminta penyerahan mayat Gaddafi, putranya Mu`tassim, dan orang lain yang tewas pada Kamis (20/10).

"Kami menyeru PBB, Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) dan Amnesty International agar memaksa Dewan Peralihan Nasional menyerahkan mayat para syuhadakepada suku kami di Sirte dan mengizinkan mereka melakukan upacara pemakaman mereka sejalan dengan ajaran Islam," demikian isi pernyataan keluarga Gaddafi.

Dalam konferensi yang tak banyak dihadiri wartawan Jumat larut malam, Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan perhimpunan Barat tersebut telah mengambil keputusan awal untuk menyerukan penghentian Operation Unified Protector pada 31 Oktober.

Rasmussen tak menyampaikan penyesalan secara terbuka mengenai kematian mantan pemimpin Libya tersebut, yang ditangkap dalam keadaan hidup oleh anggota Dewan Peralihan Nasional (NTC) tapi dibawa dalam keadaan tewas ke satu rumah sakit.

Para pejabat NTC telah mengatakan Gaddafi belakangan meninggal akibat lukanya di dalam ambulans, tapi pengemudi ambulans, Ali Jaghdoun, mengatakan kepada Reuters bahwa Gaddafi sudah meninggal ketika ia mengambil mayatnya.

"Saya tidak berusaha menolong dia, sebab ia sudah meninggal," kata Jaghdoun, di dalam kesaksian yang menambah besar dugaan yang sudah tersebar luas bahwa Gaddafi dihakimi secara beramai-ramai.

Sayap hak asasi manusia PBB menyatakan penyelidikan diperlukan mengenai apakah ia dihukum mati secara singkat. Para pemimpin sementara harus memutuskan apa yang dilakukan dengan mayatnya.

Kebebasan Libya diumumkan di Benghazi

Tripoli (Fokus Internasional) - Pengumuman resmi bahwa Libya telah dibebaskan dari bekas rezim Muamar Gaddafi dijadwalkan dilakukan pada Minggu, kata seorang pejabat senior dalam pemerintah sementara.

"Pengumuman mengenai pembebasan itu akan diumumkan di Benghazi pada pukul 5.00 waktu setempat (pukul 22.00 WIB) pada Minggu, di pengadilan," katanya, tanpa menyebut nama.

Pengumuman itu direncanakan dilakukan oleh pemimpin sementara Libya Mustafa Abdel Jalil.

Acara itu di Benghazi, kota kedua Libya, tempat pertama pemberontak bangkit melawan rezim tangan besi itu pada Februari lalu, dan Dewan Peralihan Nasional (NTC), bekas pemberontak yang kini rejim baru Libya, masih bermarkas.

Pengumuman itu akan diikuti dengan pembentukan pemerintah sementara untuk mengawasi penyusunan konstitusi baru dan mengadakan pemilihan bebas setelah empat dasawarsa berkuasanya rezim kediktatoran.

Kamis, 14 Juli 2011

Presiden AS Barack Obama
Washington (ANTARA News) - Presiden AS Barack Obama mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov Rabu bahwa ia mendukung upaya Moskow untuk menengahi penyelesaian politik di Libya.

Presiden Amerika juga menyatakan siap untuk mendukung perundingan menuju transisi demokrasi asalkan pemimpin Libya Muammar Gaddafi mengundurkan diri, kata Gedung Putih.

Sekretaris pers Obama, Jay Carney, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa presiden menjelaskan posisinya tentang masalah ini dalam pertemuan dengan Lavrov di Gedung Putih.

Moskow menyatakan, masalah Libya harus cepat diselesaikan lewat meja perundingan, bukan kekuatan senjata, lapor Reuters.

Rusia dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sebelumnya terlibat perdebatan menyangkut operasi udara negara-negara Barat di Libya, sementara pesawat tempur aliansi itu meningkatkan pemboman terhadap sasaran rezim Tripoli.

Sergei Lavrov menuduh NATO menginterpretasikan resolusi PBB tentang Libya sesuai dengan keinginannya, setelah berunding dengan Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen yang menunjukkan perbedaan, bukannya menjamin tercapainya penyelesaian bagi setiap keputusan yang telah disepakati.

Pertemuan NATO-Rusia yang diselenggarakan di kota Sochi di Laut Hitam Rusia dihadiri pada menit-menit terakhir oleh Preaiden Afrika Selatan Jacob Zuma, setelah KTT Uni Afrika yang baru saja selesai dalam upaya memperkuat rencana perdamaian regional untuk mengakhiri konflik Libya.

"Sejauh ini, tidak ada pengertian bersama tentang bagaimana resolusi itu dilaksanakan," kata Lavrov, mengacu pada resolusi Dewan Keamanan PBB yang membuka jalan bagi serangan udara di negara Afrika Utara itu.

"Kami ingin resolusi ini dilaksanakan secara benar tanpa memperluas interpretasi."

Rusia abstain dalam pemungutan suara resolusi itu di Dewan Keamanan, tetapi sejak itu mengecam atas waktu dan peningkatan serangan terhadap sasaran-sasaran pemerintah Libya.

Editor by Fatryani Auly
Mohamed Zekri Mahjub
Tripoli (ANTARA News) - Penuntut umum Libya Rabu menuduh bahwa serangan udara NATO untuk mendukung pasukan pemberontak sejak akhir Maret lalu telah menewaskan lebih dari 1.100 warga sipil dan melukai sekitar 4.500 orang yang lain.

Mohamed Zekri Mahjubi mengatakan pada para wartawan asing di Tripoli, ia akan berusaha untuk menuntut pemimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Anders Fogh Rasmussen di pengadilan Libya karena "kejahatan perang" itu.

"Sebagai sekjen NATO, Rasmusssen bertanggung jawab atas tindakan organisasi itu yang telah menyerang orang tak bersenjata, yang menewaskan 1.108 warga sipil dan melukai 4.537 orang yang lain dalam pembombardiran Tripoli dan kota-kota lainnya serta desa-desa."

Ia telah menyusun daftar tuduhan, lapor AFP.

Selain kejahatan perang, Mahyubi menuduh Rasmussen berupaya untuk membunuh pemimpin Libya Muamar Gaddafi serta "dengan sengaja melakukan agresi terhadap warga sipil yang tak bersalah" dan "pembunuhan anak-anak".

Pemimpin NATO itu juga dituduh "berupaya menggulingkan rezim Libya" dan menggantinya dengan gerakan pemberontak di bawah kekuasaaanya untuk "mengambilalih kekayaan" Libya yang kaya minyak.

Editor by Fatryani Auly
Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir.
Doha (ANTARA News) - Presiden Sudan Omar al-Bashir tiba di Doha, Rabu, untuk penandatanganan perjanjian perdamaian dengan kelompok pemberontak Darfur, kata kantor berita resmi Qatar QNA, seperti dilaporkan AFP.

"Presiden Sudan Omar al-Bashir tiba di Doha malam ini untuk menghadiri acara penandatanganan perjanjian perdamaian Darfur... antara pemerintah Sudan dan Gerakan Pembebasan dan Keadilan," kata QNA.

Penandatanganan perjanjian itu dijadwalkan berlangsung Kamis pukul 13.00 GMT (pukul 20.00 WIB), namun kelompok bersenjata utama di wilayah Darfur, Sudan barat, tidak hadir.

PBB mengatakan, lebih dari 300.000 orang tewas sejak konflik meletus di wilayah Darfur pada 2003, ketika pemberontak etnik minoritas mengangkat senjata melawan pemerintah yang didominasi orang Arab untuk menuntut pembagian lebih besar atas sumber-sumber daya dan kekuasaan. Pemerintah Khartoum menyebut jumlah kematian hanya 10.000.

Maju-mundur proses perdamaian antara kedua pihak berlangsung sejak 2009.

Pemberontak utama Darfur mengadakan dua babak perundingan dengan para pejabat pemerintah Khartoum di Qatar pada Februari dan Mei 2009.

Pada Februari 2009, Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) menandatangani sebuah perjanjian dengan pemerintah Khartoum mengenai langkah-langkah pembangunan kepercayaan yang bertujuan mencapai perjanjian perdamaian resmi.

Pada Mei 2009, JEM sepakat memulai lagi perundingan dengan Khartoum yang dihentikannya setelah pengadilan internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir karena kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan di Darfur, Sudan barat.

Perundingan antara pemerintah Khartoum dan pemberontak Darfur untuk mengatasi konflik itu telah ditunda beberapa kali pada tahun itu.

Perundingan yang dituanrumahahi Qatar itu sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2009 namun pertemuan tersebut ditunda sampai 16 November 2009 karena waktunya bertepatan dengan pertemuan puncak Uni Afrika. Jadwal terakhir itu pun ditunda hingga waktu yang belum ditentukan, kata penengah PBB dan Uni Afrika.

Kegagalan perundingan telah mengarah pada peningkatan kekerasan di Darfur.

Bentrokan-bentrokan di wilayah itu menewaskan 221 orang pada Juni 2010, sebagian besar akibat pertikaian antara suku-suku Arab yang bersaing, kata misi penjaga perdamaian PBB dan Uni Afrika (UNAMID).

Pada Mei 2010, hampir 600 orang tewas dalam pertempuran, menurut sebuah dokumen internal UNAMID.

Editor by Fatryani Auly

Rabu, 13 Juli 2011

CIA Punya Fasilitas Rahasia di Somalia?

CIA
WASHINGTON – Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) diduga memiliki fasilitas di Somalia dan sebuah penjara rahasia dalam melancarkan operasi kontra-terorisme.

Fasilitas yang digunakan CIA terletak di sudut bandara Mogandishu yang berdinding besar. Bangunan tersebut dijaga oleh pasukan Somalia dan diawasi oleh Amerika Serikat (AS).

Namun, agen CIA membantah keberadaan fasilitas rahasia di Somalia tersebut.

“CIA tidak memiliki penjara di Somalia, kami juga tidak pernah menginterogasi para tersangka di sana,” ujar agen CIA yang tidak mau menyebut identitasnya seperti dikutip AFP, Rabu (13/7/2011).

Media massa The Nation menyatakan penggunaan fasilitas di Somalia untuk memerangi militan Shebab yang merupakan afiliasi dari jaringan teroris Al Qaeda di Somalia.

Shebab diduga akan melancarkan serangan ke AS dan CIA. Karena itu AS berupaya melancarkan operasi melawan Shebab.

Beberapa laporan juga menyatkan, CIA memiliki penjara rahasia dalam kantor Badan Keamanan Nasional Somalia (NSA) yang terletak di bawah tanah. Para tahanan yang ditahan di penjara tersebut adalah anggota Shebab atau yang memiliki hubungan dengan militan tersebut.

Para tahanan ditangkap di Kenya atau negara lainnya. Penjara tersebut diurus oleh pegawai NSA yang digaji oleh CIA.

Editor by Fatryani Auly
NATO
Bagdad (ANTARA News/Reuters) - Menteri Pertahanan baru Amerika Serikat Leon Panetta pada Senin menyatakan beberapa sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Libya melihat pasukan mereka "kelelahan" dalam 90 hari.

"Masalahnya sekarang, terus terang, di Libya adalah bahwa dalam 90 hari berikutnya, banyak negara lain bisa kelelahan dalam kemampuan, sehingga Amerika Serikat berusaha membantu mengisi kesenjangan itu," kata Panetta, yang berbicara kepada tentara di Baghdad.

Ia tidak menyebut nama negara yang ia maksud atau tanggapan Amerika Serikat untuk membantu.

Pesawat tempur NATO membom Libya di bawah amanat Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencegah warga dari pasukan Muamar Gaddafi, tapi sekutu itu di bawah peningkatan tekanan, karena biaya gerakan tersebut dan kegagalannya, setelah lebih dari tiga bulan, membuahkan hasil menentukan.

Panetta, pada perjalanan pertamanya ke Irak sejak bertugas di Pentagon pada 1 Juli, menyeru anggota NATO berbuat lebih banyak untuk melanggengkan kemampuan sekutu.

Tanggapannya itu menggemakan pendahulunya, Robert Gates, yang mundurkan pada ahir Juni.

Gates memperingatkan NATO mempertaruhkan kesia-siaan bersama tentara, selain menanggung beban lebih pengeluaran tentara.

"Mereka harus mengembangkan kemampuan pertahanan. Mereka juga harus menanam modal dalam kemitraan. Kami tidak bisa menjadi pemikul beban keuangan dalam seluruh keadaan tersebut. Yang lain juga harus melakukannya," kata Panetta.

"Saya percaya pada kemitraan, tapi ketika Anda berbicara tentang kemitraan, `sialan` kau harus menjadi mitra dan itu berarti, Anda harus bisa, Anda tahu, jumlah setara dengan kemampuan, sehingga Anda benar-benar dapat menjadi mitra ketika harus berperang," katanya.

Gempuran negara NATO atas Libya mamasuki hari ke-100 pada ahir Juni dengan serangan udara mengendurkan pengepungan kota utama pemberontak, tapi Muamar Gaddafi masih berkuasa dan menyebar ketakutan akan perang berlarut-larut.

Tiga bulan setelah jet Prancis melancarkan pemboman pertama di Libya timur, persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO masih membomi sasaran di seluruh negeri itu, yang menjadi perang di berbagai medan, tapi dengan kekurang-jelasan kemenangan bagi kedua pihak.

Saat Gerakan Pelindung Bersatu mendekati serangan ke-5.000, NATO menghantam sekitar 50 sasaran sehari, sebagian besar dalam atau di sekitar Tripoli Misrata di barat; Brega di timur, dan pegunungan Nafusa di baratdaya ibukota negara itu.

NATO dalam keterangan hariannya mengatakan melancarkan serangan pada Minggu di Zintan, Yafran dan zawiyah.

Di samping keterbatasan keberhasilan NATO dalam membungkam Gaddafi, kebanyakan pemberontak Libya di timur tetap kuat untuk mendukung gempuran persekutuan tersebut.

Di tengah pertempuran kian mengendur, badan Afrika Bersatu menyatakan Gaddafi tidak akan ikut dalam pembicaraan perdamaian, dalam yang diduga menjadi kesepakatan.

NATO terancam kalah perang propaganda melawan pemimpin Libya Muammar Gaddafi akibat membunuh rakyat, kata menteri luar negeri Italia pada akhir Juni.

Persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO mengaku menghancurkan rumah di Tripoli, tempat sembilan warga tewas.

Kejadian itu menabur keraguan baru di dalam persekutuan tersebut tentang tugasnya di Libya.

"NATO membahayakan nama baiknya. Kita tidak bisa terancam akibat membunuh warga," kata Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini kepada wartawan menjelang pertemuan menteri luar negeri Eropa Bersatu di Luksemburg guna membahas cara membantu pemberontak menentang Gaddafi.

Editor by Fatryani Auly