FOKUS INTERNATIONAL KEMBALI HADIR UNTUK PARA PEMBACA SEKALIAN

jual beli liberty reserve, jual beli paypal

Selasa, 18 Januari 2011

Taipei (ANTARA News) - Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou, mengatakan kabinetnya sangat khawatir terhadap kunjungan Presiden China, Hu Jintao, ke Amerika Serikat (AS), dan berharap tidak menghalangi negerinya memiliki pesawat jet tempur F-16 C/D buatan AS.

Hu dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke AS pada 18-21 Januari, selama itu ia akan berbincang dengan Presiden AS, Barack Obama, di Gedung Putih.

"Meski Taiwan tidak akan menjadi pembicaraan utama selama kunjungan Hu di AS, kami tetap mengawasi dengan seksama acara tersebut," kata Ma saat menerima dua cendekiawan AS di Kantor Kepresidenan, Senin.

Ia mengatakan, para tamunya -- presiden Institut Wiraswasata AS, Arthur C. Brooks dan sesama peneliti bermarkas di Washington Dan Blumenthal -- bahwa rencana pembelian F-16 C/D bukan bertujuan untuk memperluas kemampuan militer tetapi mengganti armada jet tempur tua F-16 A/B.

Ma berharap, kunjungan Hu nanti ke AS tidak akan mempengaruhi rencana perolehan jet tempur Taiwan.

Sehubungan dengan China, Ma mengatakan, hubungan bilateral lintas Selat Taiwan telah berkembang secara berlanjutan.

Di antara rencana awal lainnya, kata Ma, kedua belah pihak sudah mulai mengurangi tarif atau pembebasan pajak terhadap ratusan produk sejak awal tahun ini sesuai dengan program "panen awal" sebagai bagian dari kesepakatan lintas selat Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi (ECFA) yang ditandatangani pada Juni lalu.

Taiwan dan China juga akan bernegosiasi lebih lanjut mengenai pembebasan sejumlah perdagangan dan layanan juga perlindungan investasi dan pembentukan mekanisme penyelesaian pertikaian tahun ini, kata Ma.

Selama setahun ini, ia mencatat, keamanan di Asia Timur berada di bawah bayang-bayang ancaman perang dari Korea Utara.

Sebagai dampaknya, Taiwan dengan teguh mendukung posisi yang diambil AS, Korea Selatan dan Jepang terhadap Korut dan mengutuk kebijakan provokatif Pyongyang, katanya.

Ma mengatakan, kabinetnya akan terus bekerja untuk mempertahankan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan mengontribusi terhadap pembangunan kawasan.

Presiden Taiwan juga menyatakan harapan bahwa Taiwan mendapatkan program bebas visa dari AS dalam waktu dekat ini.

Ma mengatakan, pemerintahnya akan mengambil langkah jelas kepada supaya AS tindakan serupa dengan program pembebasan visa wilayah Schengen Uni Eropa yang merupakan bentuk pengakuan kualitas warga Taiwan.

Upaya Taiwan dalam hal itu akan menyertakan perubahan peraturan untuk menetapkan bahwa warga yang mendaftar secara pribadi untuk mendapatkan paspor, jelasnya, menambahkan bahwa kebijakan itu akan diberlakukan pada Juli.

0 komentar:

Posting Komentar