FOKUS INTERNATIONAL KEMBALI HADIR UNTUK PARA PEMBACA SEKALIAN

jual beli liberty reserve, jual beli paypal

Minggu, 19 Desember 2010

Iran Prioritaskan Hubungan dengan Arab Saudi

Teheran (ANTARA News/AFP) - Ketua badan tenaga atom Ali Akbar Salehi yang secara resmi Sabtu diangkat menjadi Menteri Luar Negeri Iran mengatakan prioritas utama Teheran adalah meningkatkan hubungan dengan Arab Saudi dan Turki.

Salehi, yang mengawasi program nuklir Iran yang kontroversial itu, diangkat menjadi menteri luar negeri sementara setelah orang yang digantikannya Manouchehr Mottaki, dipecat oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad pada 13 Desember.

"Prioritas utama Iran dalam diplomasi harus pada tetangga-tetangga dan dunia Islam. Sehubungan dengan ini, Arab Saudi dan Turki memiliki satu posisi khusus," kata Salehi yang dikutip kantor berita Mehr setelah memangku tugas kementerian itu.

"Arab Saudi layak memiliki hubungan politik khusus dengan Iran. Iran dan Arab Saudi, sebagai dua negara yang efektif dalam dunia Islam, dapat bersama menyelesaikan banyak masalah."

Pernyataan Salehi tentang Arab Saudi itu adalah penting setelah kawat-kawat diplomatik Amerika Serikat yang disiarkan oleh laman internet WikiLeaks menunjukkan Riyadh cemas oleh ancaman dari Iran.

Raja Abdullah dilaporkan mendesak para pejabat penting AS menghancurkan program nuklir Iran.

Salehi, 61 tahun mengatakan Iran dan Uni Eropa juga akan "bermanfaat" jika Uni Eropa mengubah sikapnya terhadap Iran dari "konfrotasi menjadi pendekatan secepat mungkin."

"Kendatipun ada beberapa tindakan yang tidak adil oleh Uni Eropa, blok itu ingin memiliki hubungan yang terhormat dengan Iran untuk beberapa alasan termasuk energi," katanya.

Salehi juga menegaskan tentang pentingnya memperluas hubugan dengan Suriah, Irak, Azerbaijan, Afghanistan dan Pakistan, Rusia dan China.

Salehi memangku jabatan dalam satu acara yang juga merupakan perpisahan bagi Mottaki, yang dipecat ketika ia sedang melakukan kunjungan resmi ke Senegal, tidak hadir.

Pemecatannya dilakukan setelah ia memuji sebagai satu "langkah maju" pernyataan Menlu AS Hillary Clinton bahwa Iran berhak memiliki program energi nuklir untuk tujuan damai.

Hillary mengemukakan kepada radio Inggris BBC Teheran dapat memperkaya uranium untuk tujuan-tujuan sipil di masa depan, tetapi hanya apabila negara tu menunjukkan dapat melakukannya dengan bertanggung jawab dan sesuai dengan kewajiban-kewajiban

Pernyataan Mottaki itu tampaknya melanggar sikap resmi Iran, yang hampir setiap hari diulang bahwa pengayaan uranium tidak dapat dirundingkan.

Pemecatan Mottaki juga dilakukan hanya beberapa hari Iran melakukan perundingan di Jenewa dengan negara-negara penting menyangkut masalah nuklir itu. Perundingan mendatang menurut rencana akan diselenggarakan bulan depan di Turki.

Salehi diangkat menjadi ketua badan tenaga atom Iran 17 Juli 2009, menjadi kekuatan pendorong di belakang program atom Iran.

Sebelum memangku jabatan itu, ia adalah wakil ketua Organisasi Konferensi Islam yang berpusat di Jeddah.

Salehi meraih gelar doktor dari perguruan tinggi terkenal Masssachusetts Institute of Technology (MIT).

Ia pernah bertugas sebagai wakil Iran pada Badan Tenaga Atom Internasional yang berpusat di Wina selama pemerintah Presiden Mohammad Khatami.

Media melaporkan bahwa Salehi akan menjadi menteri luar negeri sementara sampai parlemen menyetujui pengankatannya.

Sementara itu, wakil Presiden Mohammad Reza Rahimi mengatakan pengangkatan Salehi dilakukan pada saat di mana Iran berada dalam posisi "khusus dan penting sekali."

"Situasi kita sekarang adalah khusus dan penting tetapi juga menggembirakan. Kendatipun sanksi-sanksi paling keras diberlakukan terhadap Iran, situasi kita lebih baik ketimbang sebelum sanksi-sanksi itu," kata Rahimi yang dikutip kantor berita ISNA.

Dewan Keamanan PBB memberlakukam empat babak sanksi terhadap Iran 9 Juni, disusul dengan tindakan hukuman sepihak oleh Uni Eropa, AS dan beberapa negara lain.

0 komentar:

Posting Komentar