Teheran (Fokus/ANTARA News) - Para pejabat Iran, Rabu (11/1), mengatakan Amerika Serikat dan Israel berada di belakang pembunuhan staf nuklir Iran.

Media setempat, Rabu (11/1), melaporkan Mostafa Ahmadi-Roshan, anggota staf instalasi pengayaan uranium Iran di Natanz, dibunuh dalam satu serangan bom di Jalan Gol Nabi, dekat lapangan Ketabi, Teheran utara, Rabu pagi.

Wakil I Presiden Iran, Mohammad-Reza Rahimi, Rabu, mengatakan agen Israel adalah pelaku pembunuhan Ahmadi-Roshan, demikian laporan kantor berita resmi Iran, IRNA.

"Musuh mesti tahu mereka takkan bisa menghentikan kemajuan ilmu pengetahuan Iran dengan tindakan teroris semacam itu," kata Rahim sebagaimana dikutip IRNA.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast pada hari yang sama mengatakan pembunuhan ilmuwan nuklir negeri tersebut adalah petunjuk mengenai berlanjutnya aksi teroris tak manusiawi oleh Israel dengan dukungan negara tertentu Barat, terutama Amerika Serikat.

Tujuannya ialah untuk mencegah kegiatan nuklir damai Republik Islam, kata kantor berita setengah resmi Fars.

Mehmanparast, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Kamis pagi, mengatakan Iran akan menuntut pembunuh Ahmadi-Roshan melalui saluran internasional.


Dinas Intelijen

Pejabat Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional di Majelis Iran Kazem Jalali, Rabu, mengatakan dinas intelijen Israel dan AS berada di balik pembunuhan ilmuwan nuklir Iran itu.

Jalali mengatakan pengalaman masa lalu menunjukkan aksi teroris seperti pembunuhan Ahmadi-Roshan adalah pekerjaan agen intelijen rejim Zionis dan Amerika Serikat.

Ketua Majelis Iran Ali Larijani mengutuk pembunuhan Ahmadi-Roshan sebagai petunjuk mengenai dalamnya kebencian musuh terhadap negeri tersebut, demikian laporan media satelit lokal Press TV, Rabu.

"Ini bukan untuk pertama kali negara congkak mensahkan aksi sia-sia semacam itu," kata Larijani. Ia menambahkan semua musuh Iran meyadari bahwa aksi itu tak bisa merusak tekad bangsa Iran.

Pada Rabu, Fars melaporkan seorang pembunuh dengan mengendarai sepeda motor menaruh bom di dalam mobil Ahmadi-Roshan, sehingga menewaskan ilmuwan itu seketika dan melukai dua orang lagi di dalam mobil tersebut.

Salah satu orang yang terluka, pengemudi mobil itu, tewas di rumah sakit Rabu malam, kata IRNA.

Sebelumnya, laporan media mengidentifikasi Ahmadi-Roshan sebagai dosen di universitas, dan Fars serta Press TV menyatakan ia dulu adalah seorang "ilmuwan nuklir".

Belakangan dengan mengutip pengumuman dari Universitas Sharif, Teheran, IRNA melaporkan Ahmadi-Roshan adalah anggota staf instalasi pengayaan uranium Iran di Natanz.

Ahmadi-Roshan, yang berusia 32 tahun, adalah wakil kepala bagian komersial instalasi pengayaan uranium Natanz, kata IRNA.

Ia lulus dari Universitas Sharif, yang bergengsi, pada 2003, dari Fakultas Teknik Kimia, kata IRNA.

Belum jelas apakah Ahmadi_Roshan terlibat langsung dalam program nuklir Iran.

Beberapa ilmuwan nuklir Iran telah dibunuh dalam beberapa tahun belakangan.

Pada Juni 2011, media setempat melaporkan Dariush Rezaeinejad, pria yang berusia 35 tahun dari jurusan teknik elektro di Universitas Khajeh Nasir, Teheran, dan bekerja untuk Kementerian Pertahanan Iran, dibunuh oleh beberapa pengendara motor di luar rumahnya di Teheran timur.

Pada November 2010, ilmuwan nuklir Iran Majid Shahriari tewas oleh bom yang diletakkan di mobilnya dalam perjalanannya ke tempat kerja.

Pada Januari 2010, Massoud Ali-Mohammad, seorang ilmuwan nuklir dari Universitas Teheran, dibunuh dengan menggunakan bom yang dikendalikan dari jauh dan ditaruh di sepeda motor yang diparkir di dekat rumahnya.

Iran telah menuduh Israel membunuh beberapa ilmuwan nuklirnya, dan juga menuding Amerika Serikat berada di belakang aksi teror terhadap para ilmuwan Iran.

Barat mencurigai pengayaan uranium Iran mungkin dimaksudkan untuk membuat senjata nuklir. Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan program nuklirnya semata-mata bertujuan damai.