FOKUS INTERNATIONAL KEMBALI HADIR UNTUK PARA PEMBACA SEKALIAN

jual beli liberty reserve, jual beli paypal

Rabu, 22 Juni 2011

Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen
Phnom Penh (ANTARA News/Xinhua-OANA) - Perdana Menteri (PM) Kamboja, Hun Sen, pada Selasa mengatakan bahwa 24 orang Kamboja tewas dalam empat kali bentrokan bersenjata dengan Thailand selama konflik perbatasan sejak 2008.

Berbicara saat merayakan ulang tahun ke-empat Hari Veteran Kamboja, ia mengatakan, pertempuran antara pasukan Kamboja dan Thailand atas sengketa perbatasan di dekat kuil Preah Vihear 11 Oktober 2008 dan April 2009 telah membunuh tiga tentara Kamboja, dan bentrokan pada 4-7 Februari 2011 menewaskan delapan tentara Kamboja, termasuk empat tentara, dua polisi dan dua warga sipil.

Ia juga mengemukakan, bentrokan terbaru dari 22 April - 3 Mei di kuil Ta Sen dan Ta Krabei di Oddar Meanchey menewaskan 13 tentara lain di Kamboja.

"Kamboja sangat menyesal atas kematian mereka karena mempertahankan nasional," katanya.

Ia menimpali, "Kami berharap bahwa tidak akan ada bentrokan bersenjata lebih lanjut dan Kamboja mencoba semua yang terbaik untuk mencari solusi damai pada konflik perbatasan Kamboja dan Thailand."

Kamboja dan Thailand memiliki konflik perbatasan hanya sepekan setelah candi Kamboja Preah Vihear terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia dari Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB untuk Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) pada 7 Juli 2008.

Thailand mengklaim kepemilikan 4,6 kilometer persegi tanah bersemak di sebelah kuil.

Sejak itu, kedua pihak membangun kekuatan militer di sepanjang perbatasan dan bentrokan periodik terjadi, mengakibatkan kematian tentara dan warga sipil di kedua pihak.

Kamboja mengangkat masalah ini ke Dewan Keamanan PBB pada Februari dan Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan pada 14 Februari serta menugaskan ASEAN untuk menengahi konflik perbatasan kedua negara.

Indonesia pada saat mengetuai ASEAN dan berupaya untuk ikut memecahkan sengketa itu.

Pada 22 Februari, para menteri luar negeri ASEAN mengadakan pertemuan di Jakarta untuk menengahi konflik.

Pada saat itu, Kamboja dan Thailand sepakat untuk menerima pengamat Indonesia untuk memantau gencatan senjata di sisi perbatasan masing-masing, tetapi penyebaran selalu tertunda karena Thailand menuntut bahwa tentara Kamboja dan penduduk setempat akan ditarik dari daerah yang disengketakan 4,6 km persegi dekat kuil pertama.


Editor by Fatryani Auly

0 komentar:

Posting Komentar