FOKUS INTERNATIONAL KEMBALI HADIR UNTUK PARA PEMBACA SEKALIAN

jual beli liberty reserve, jual beli paypal

Senin, 04 Juli 2011

Didemo Separatis Quebec, William Tetap Cuek

Pangeran William berbincang dengan anak-anak di Quebec
VIVAnews - Pangeran William dan istrinya, Catherine, terharu dengan sambutan luar biasa dari penggemar mereka dalam lawatan ke Quebec City, kota yang menjadi kunci kemenangan Inggris atas koloni Prancis beberapa abad silam.

Dalam kunjungan pada hari Minggu waktu setempat, mereka tak terpengaruh oleh aksi unjuk rasa dari gerakan separatis berbahasa Prancis di sekitar tempat lokasi, yang tak melupakan peristiwa bersejarah itu.

Sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press, Duke dan Duchess Cambridge sedang melakukan lawatan kenegaraan pertama sejak pernikahan mereka pada 29 April lalu. Kunjungan ke Quebec itu berlangsung pada hari keempat dari lawatan pertama mereka ke luar negeri selama sembilan hari.

Pasangan ini makan siang di Citadelle, tempat dimana bendera Inggris dikibarkan sebagai tanda berakhirnya Perang Quebec pada 1759. Saat itu, pasukan Inggris berhasil menekuk Prancis dalam upaya penaklukan New France.

Undang Amarah

Kedatangan Pangeran William dan istri rupanya membakar amarah gerakan separatis berbahasa Prancis di Quebec, yang langsung melakukan aksi protes selama dua hari berturut-turut. Hal yang kurang lebih sama juga dialami saat mereka berkunjung ke Montreal, negara bagian Kanda lain yang juga dominan berbahasa Prancis.

"Apa yang mereka saksikan di Quebec dan Montreal selama dua hari belakangan ini merupakan bagian dari keragaman Kanada, dan tak mengurangi rasa cinta mereka sedikitpun terhadap negara ini," kata Miguel Head selaku juru bicara pasangan tersebut. "Mereka sangat jatuh cinta pada Kanada."

Para demonstran Quebec marah karena Kanada masih memiliki hubungan dengan Kerajaan Inggris. Buktinya, Ratu Elizabeth masih menjadi kepala negara Kanada.

Sekitar 200 demonstran, sebagian berbusana hitam dan mengibarkan bendera, melakukan aksi sejauh dua blok dari City Hall, tempat Pangeran William menghadiri upacara penghormatan Royal 22e Regiment, unit berbahasa Prancis terbesar dalam militer Kanada. Polisi tampak menyusun barikade untuk mengusir para demonstran, namun mereka malah datang mambawa peralatan audio dengan truk untuk berorasi.

Para demonstran meneriakkan RRQ, inisial Reseau de Resistance du Quebecois (jaringan perlawanan rakyat Quebec), yang mengorganisir demonstrasi di Quebec dan Montreal. Mereka membawa spanduk bertuliskan 'Monarki telah berakhir' dan meneriakkan yel 'Hidup Quebec!'

"Kamai tidak mengakui otoritas dan legitimasi kerajaan Inggris atas monarki Quebec. Menurut kami, mereka bukan simbol nasional," kata Maxime Laporte, salah satu demonstran. "Menurut kami, itu adalah simbol penjajahan dan kejahatan perang atas kemanusiaan, melawan rakyat kami."

Sambutan 'hangat' ini tentu saja bertolak belakang dengan saat mereka berkunjung ke Ottawa, negara bagian Kanada yang berbahasa Inggris.

Dalam acara penghormatan yang berlangsung di Quebec City, Duke of Cambridge memberikan sambutan beberapa saat setelah lagu kebangaan Inggris mulai dimainkan. Hadirin tertawa saat William mengucapkan terima kasih atas kesabaran mereka menghadapi aksen Inggrisnya yang kental.

Duke dan Duchess of Cambridge tiba di Quebec City dari Montreal pada Minggu, 3 Juli 2011 pagi menggunakan sebuah kapal AL Kanada. Sebelum makan siang di Citadelle, pasangan ini ambil bagian dalam pelayanan doa dwibahasa di dek Montreal HMCS setelah berlabuh, kemudian menuju pantai untuk bertemu penduduk dari La Maison Dauphine, sebuah pusat yang membantu tunawisma.

Editor by Fatryani Auly

0 komentar:

Posting Komentar