FOKUS INTERNATIONAL KEMBALI HADIR UNTUK PARA PEMBACA SEKALIAN

jual beli liberty reserve, jual beli paypal

Senin, 19 Maret 2012

Timor Leste gelar pemilu presiden

Dili (Fokus/ANTARA News/AFP) - Timor Leste, Sabtu, menyelenggarakan pemilihan presiden untuk kedua kalinya sebagai negara merdeka, dianggap satu ujian penting bagi negara itu untuk mengambil alih tugas keamanannya sendiri setelah pasukan PBB segera meninggalkan negara itu.

Pemungutan suara dimulai pagi dan berakhir pukul 15,00 waktu setempat (13.00 WIB) tanpa terjadi aksi kekerasan dalam satu pemilihan yang juga ikut menjadi kandidat Presiden Jose Ramos-Horta melawan 11 kandidat lainnya.

Pemilu ditandai terorganisasi dengan baik bagi satu negara yang lama tidak stabil yang merdeka tahun 1999.

"Menyangkut masalah keamanan sekarang adalah satu sukses. Tidak ada insiden-insiden penting," kata Komandan Polisi PBB Luis Carrilho.

"Di beberapa distrik kondisi cuaca tidak baik karena hujan lebat, sehingga sejumlah pemilih memberikan suara mereka sedikit mengalami kesulitan," tambahnya.

Pemungutan suara itu kontras dengan aksi kekerasan pra-pemilihan yang meletus tahun 2006, yang menyebabkan negara nyaris terlibat perang saudara.

"Tidak ada satupun insiden kekerasan, jadi ini adalah satu keberhasilan besar bagi negara ini," kata Ramos-Horta setelah memberikan suara di ibu kota Dili.

Kehadiran para pemilih besar di seluruh negara itu, dengan sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) menggunakan surat suara cadangan, kata para petugas pemilihan.

Di sebuah gedung sekolah di desa Balibar yang sejuk tidak jauh dari Dili, para pemilih antre sekitar satu jam setelah TPS dibuka pukul 07.00 waktu setempat (05.00 WIB), beberapa orang dari mereka membawa bayi-bayi atau anak-anak kecil yang baru bisa berjalan dan banyak yang tidak memakai alas kaki.

Pemilihan presiden kedua sebagai negara merdeka adalah pertama dalam serangkaian peristiwa penting bagi negara itu ketika memasuki satu periode yang sangat penting.

Pada Mei, Timor Leste akan merayakan 10 tahun kemerdekaan, yang terjadi setelah tiga tahun berada di bawah pemerintah PBB. Kemudian pada Juni para pemilih akan memilih pemerintah baru dalam satu pemilu.

Pada akhir tahun ini negara yang berpenduduk 1,1 juta jiwa itu akan ditinggalkan pasukan PBB yang digelar di negara itu sejak tahun 1999.

Di antara banyak masalah yang dihadapi Timor Leste adalah ketergantungan yang sangat berat pada cadangan energi yang merupakan sekitar 90 persen pendapatan negara itu.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutnya "negara yang paling besar tergantung pada pendapatan minyaknya di dunia".

Berdasarkan konstitusi negara itu presiden sebagian besar memilih peran seremonial, tetapi peran itu meningkat oleh Ramos-Horta, yang memperoleh hadiah Nobel Perdamaian tahun 1996 atas usahanya menyelesaikan konflik kemerdekaan itu.

Ramos-Horta yang berusia 62 tahun itu yang selamat dari usaha pembunuhan tahun 2008 adalah presiden kedua pasca kemerdekaan setelah Xanana Gusmao-- mantan pemimpin pemberontakan anti-Indonesia yang kini menjadi perdana menteri.

Pertarungan bagi jabatan presiden itu sebagian besar akan terjadi antara tiga kandidat Ramos-Horta, Frncisco "Lu Olo" Guterres dari partai Fretelin dan mantan panglima angkatan bersenjata Taur Matan Ruak, pemimpin gerilya.

Hasil resmi dari pemilihan Sabtu diperkirakan baru akan diketahui diketahui setelah pekan depan.

Para pemantau internasional dan wakil-wakil dari Australia,Uni Eropa dan negara-negara yang berbahasa Portugis memantau pemungutan suara itu.


Editor : Jendri Frans Mamahit

0 komentar:

Posting Komentar